Menuju Musi Rawas Adil dan Makmur Pemuda Harus Berkompetisi di Pilkada 2020/2025

Menuju Musi Rawas Adil dan Makmur Pemuda Harus Berkompetisi di Pilkada 2020/2025

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) akan berlangsung pada 2020 nanti ada sekitar 7 kabupaten yang melakukan pemilihan kepala daerah termasuk kabupaten musi rawas.

Berderap isu dan berterbangan berita burung menunjukan sang petahanan akan kembali berkompetisi di pilkada musi rawas 2020, ada juga yang telah mengambil berkas kesemua itu tidak ada calon dari kaum muda.
Baru kami konfirmasi kemarin Pemuda Asal Sukakarya Musi Rawas Saudara kami Dedi Busro memberi sikap ikut dalam Bakal calon Di 2020 nanti.

Dedi mengatakan sudah hampir 2 dekade kepemimpinan kaum muda selalu tidak andil dalam Setiap fase kepemimpinan yang terjadi selama ini.

Maka dari itu didalam kontestasi pilkada 2020 nanti harus ada dari pemuda yang harus menjadi nahkoda baru. Pemuda yang akan menjembatani turun secara langsung avar aspirasi-aspirasi masyarakat dapat terwujudkan.

Dedi juga menyampaikan jika dirinya maju nanti dia akan bergerak bersama pemuda dan mahasiswa serta di dampingi dan di arahi oleh kaum senior agar saling berkesinambungan dalam prosesnya nanti, Ujar dedi
Kabupaten musi rawas perlu bangkit dan bersinar lagi maka dari itu kita membutuhkan pemimpin tanpa pekedot yang dapat mensinergiskan antara ucapan dan perbuatan, pemimpin yang bisa menjadi contoh.

Pemuda dinilai harus ikut membenahi carut marutnya kondisi sekarang, maka dari itu pemuda harus hadir paling depan sebagai taling penyambung cita-cita bersama.

Lanjut, dedi juga mengatakan mendapat dukungan penuh dari kaum muda dan mahasiswa se-musi rawas baik yang berada di dalam kabupaten dan juga di luar kabupaten untuk sama-sama berjuang dalam menyambut kursi no 1 di kabupaten musi rawas.

Perjalanan air mata

Hidup seseorang biasanya menunjukan kurva yang berbeda-beda dalam dimensi apapun dalam menjalani kehidupan di buminya manusia ini.

Manusia lain kadang lupa bahwa apa yang dilakukan selalu akan di beri kado oleh sang pemilik dunia ini. Kehidupan yang berjalan dengan terjal pun akan dan pasti nantinya diberi doorprize oleh sang ilahi.

Dan perputaran kehidupan tentunya menjadi hal yang teramat pasti. Hari ini kita tidak perlu kecewa atau merasa tidak adil tentang apa yang terjadi tapi kita perlu menerima dengan baik apa-apa yang telah singgah dalam diri kita.

Semua yang berawal dari air mata dengan segala rasa sakit yang terpendam hanya dengan satu makna doa yang dapat membuat ia pulih kembali.

Perjuangan akan apa yang menjadi cita-cita akan terus diteropong lewat doa dan kesungguhan dalam melangkah.

Setiap perjalanan yang di basuhi oleh keringat dan air mata tentu akan berbuah pada satu keindahan yang abadi.

Jangan khawatir air mata datang dan pergi, sekalipun ia datang dengan rasa yang dalam di buat oleh orang yang dalam tapi tetap tenang surga kebahagian menanti kehidupan kita semua.

Kita akan melihat mereka dalam senyuman lepas setara dengan apa yang menjadi tujuan hati kita.

Kita tidak meminta tuhan untuk menghukum setiap orang tapi kita meminta kepada tuhan untuk menunjukan yg terbaik kepada dia.

Pemuda Siap Berkompetisi dikontestasi Pilkada Musi Rawas 2020/2025

Pemuda Siap Berkompetisi dikontestasi Pilkada Musi Rawas 2020/2025

Pemuda memang selalu menjadi harapan masyarakat untuk meneruskan estafet kepemimpinan yang optimal, melihat kondisi musi rawas yang masi tertinggal dari kabupaten kota lainya disumatera selatan maka dirasa perlu menghadirkan sosok pemuda baru yang siap dan penuh gagasan dalam memperjuangkan kabupaten asal.

Pemuda Musi Rawas (dedi busro) saat kami konfirmasi menyatakan diri ingin ikut berkompetisi di bursa pencalonan pilkada 2020 nanti. Dedi mengatakan Bahwa musi rawas Merupakan kabupaten yang masi alami dengan tatakelola yang jauh lebih baik jika di nahkodai oleh kaum-kaum muda.

Musi rawas membutuhkan sosok Nahkoda baru dalam menata musi rawas kedepan. Pemuda yang selalu tidak mendapat tempat seharusnya akan lebih di perjuangkan Ketika beliau duduk di kursi no 1 di musi rawas nanti.

Pilkada musi rawas 2020 nanti harus kita gaungkan dalam rangka mencari sosok pemimpin yang ideal Yang di kemudian hari dapat mewujudkan keinginan bersama menjadi sebuah kabupaten yang sempurna. Sudah seharusnya kita keluar dari zona kabupaten nyaman dan saatnya kita berjuang untuk berkembang jauh lebih baik.

Dedi membutuhkan dukungan penuh kepada seluruh masyarakat musi rawas agar apa yang menjadi pola perjuangan yang selalu kita eluh-eluhkan dapat dengan muda terwujud berkat dukungan dari masyarakat semuanya

“Saat demokrasi pilkada Musi rawas di mulai Maka disana semua orang berhak berkompetisi, asalkan berkompetisi dengan elegan. Semoga akan hadir lebih banyak sosok pemuda baru di musi rawas yang bertekad besar dalam memperjuangkan daerah kita tercinta,” ujarnya.

Penulis: B

Mahasiswa diambang Gelisah Menanti Keputusan Yang Tak Kunjung Selesai

Sudah hampir 3 bulan lebih kita istirahatkan diri dari aktikvitas perkuliahan, dari akhir mei 2019 lalu kita sudah di vonis libur.

Dan sekarang lagi proses penerimaan mahasiswa baru yang teramat panjang serta harus menyaksikan kabar-kabar berterbangan tanpa ada kepastian. Sebagai mahasiswa dalam hal ini perlu menyikapi apa yang sedang terjadi, sehingga sampai saat ini tiba, sudah tidak ada kepastian kapan kaki akan bertijak di kampus biru lagi.

Rektorat dengan andalanya terus melakukan memorandum of understanding yang sampai saat ini dapat sama-sama public lihat tanpa ada perubahan yang siknifikan.

Kami sebagai mahasiswa merasa ada hal yang perlu diselesaikan rektorat mengingat kita harus menghindari argumentasi miring terhadap institusi tercinta ini. Kurangnya kolaborasi dengan mahasiswa dalam ajang mencari mahasiswa menjadi aspek paling vital terjadinya kemerosotan yg dalam.

Rektorat harus mengakui dan tidak boleh arogansi, kami mendengar langsung keluhan mahasiswa baru terhadap kebijakan-kebijakan kampus yang tidak perna jelas dalam proses mengabarkan informasi.

Apa yang sedang terjadi ?

Disaat semua kampus sudah masuk dan semangat mahasiswa barunya kita malah terus mengundur dalam menyambut hal ini, mereka bertanya-tanya “kita kok gini ya” kenapa? Kok cuman kita yang belum masuk kuliah kabarnya berubah-ubah terus.

Kita sayang dengan institusi ini, kita marah kita kita di hujat dan kita bimbang ketika kita dalam penantian yg tidak pasti. Jangan sampai kami menerka-nerka apa yang sedang terjadi,

Kalau ada yg bilang kami tidak boleh ikut mengomentari perihal ini sampaikan dalilnya kita temui antar muka. Kita bukan hanya mendesak tapi kita ingin rambu-rambu ini terus hidup bentuk kecintaan kita terhadap institusi dan jajaran lowyers yg sedang memimpin.

Kita membutuhkan pemimpin bukan hanya sekedar citra semuh kewibawaan yang dibuat-buat atau produk komunikasi yang hanya memantik partisipasi public demi menutupi semua ini. Kita layak memiliki pemimpin tanpa pekedot yang dapat mensinergikan antara ucapan dan perbuatan.

Sudah terlalu lama kita di ambang keputusan yang tidak pasti, sudah terlalu lama kita harus menggu kabar-kabar yg mana yang baik. Kita bukan anak kemarin sore yang baru lepas dan liar kita ingin menghindari complaint public yang berkepanjangan. Solidaritas kebersamaan dan dialoq demi dialoq terus kita bangun agar kita sama-sama dalam hal ini.

Ini hanya lantunan kecil berdalil keritik yang semoga menjadi
Zebra cross sebelum sama-sama kita berjalan.

Hidup mahasiswa

Hidup kampus biru

Ttd

DB

Busronis Love

Pertama-tama cinta itu hadir ketika Ruh belum bersama kita. Kita hadir karena cinta Tuhan dan cinta orang tua, cinta itu kebutuhan dunia yang paling penting karena menyangkut harkat kebahagian. Kebahagian hadir ketika ada hasrat yang diinginkan di penuhi. Jadi, tuhan saja mencintai kita untuk hadir ke dunia padahal waktu itu kita belum mencintainya.

Sangat bohong sekali jika cinta, atau mencintai orang yang juga mencintai kita, pasti hasilnya tidak akan baik. Dengan saling mencintai maka timbul istilah keraguan dalam hubungan cinta hilang makna perjuangan. Ketika sudah saling sama-sama mencintai kita terlalu banyak tebak-tebakan dalam kehidupan, berpaling sedikit di bilang penghianat, ngobrol dengan wanita lain di bilang selingkuh, jadi cinta mengikatkan emosional kita terlalu dalam.

Padahal kita harus tahu, kita hidup dalam sosial dunia yang sangat luas, dikelilingi oleh jutaan kejadian yang kita dituntut terlibat dalam hal itu. agar cita-cita kita sampai pada telos yang diinginkan.

Busronis Love adalah Cinta yang tidak terikat emosional, cinta itu sangat buruk, kejam dan tajam setiap detik,jam,menit dan bahkan hari selalu menelan korban. Setiap orang banyak mengeluh karena cinta, banyak mati dan dimatikan oleh cinta. Maka kenapa cinta itu tidak perna baik..? Karena sudah saya katakan di atas tadi “tuhan saja ketika mencintai kita, itu disaat kita sedang tidak mencintai dia”.

Maka jalan yang baik untuk cinta adalah Busronisme (kebebasan). Kita bisa mencintainya dengan menampilkan kebaikan diri, mencintainya dalam diam. Dengan itu kita sudah termasuk kedalam orang-orang yang paham dengan pergerakan Cinta. Cinta itu tidak perna memaksa kesetiaan jika kesetian di langgar artinya cinta tidak ada lagi, sering orang bertengkar hebat tentang kesetiaan. Padahal cinta itu fleksibel. Cinta tidak akan menyakitimu kalau kamu tidak menyakitinya.

Banyak istilah yang keliru yang harus kita perbaiki di dunia ini, kekeliruan itu tidak perlu mengundang orang lain untuk memperbaikinya. tidak mudah masuk kedalam pikiran orang lain dengan pengertian pikiran kita, kita cukup berbenah untuk diri kita dan pemikiran kita selebihnya biarkan orang mencontohnya atau bahkan kalau ia menginginkan itu hadir dalam dirinya dengan itulah kita bisa masuk untuk membantunya.

Cinta itu bukan tentang siapa-siapa tapi tentang Kita. Tanpa kita cinta tidak perna hadir dan di hadirkan. Tapi bercintalah dengan pergerakan yang baik dengan tempo yang indah serta irama yang panjang agar dinamika kehidupan cinta dapat bersenyawa dalam kehidupan yang utuh.

Selamat memperbaiki kualitas cintamu..

Link Online Aktivitas Dedi Busro

01. Link Aksi di polda

https://www.idntimes.com/news/indonesia/amp/muhammad-rangga-erfizal/mahasiswa-palembang-tuntut-tindakan-represif-polisi-di-aksi-21-22-mei

02. Launching buku dedi busro

Rektor UPGRI Membuka Launching dan Bedah Buku Karya Dedi Busro Mahasiswa Universitas PGRI Palembang

03. OPINI Koran dedi busro

http://www.mediasriwijaya.com/mahasiswa-hmi-cabang-palembang-mengutuk-keras-aksi-teror-di-masjid-al-noor-selandia-baru

http://mediasriwijaya.com/pelaku-golput-terbesar-pada-pemilu-2019

Resensi Buku

Resensi Buku:

Buku ini menunjukan dasar-dasar manusia yang mana hari ini kita sering selisih tentang manusia, dalam buku tersebut busro menjelaskan bahwa ada tatanan cara berpikir yang baru tentang manusia yang dapat memudahkan kita mengartikan manusia itu sendiri, busro juga menjelaskan secara teori histori dan cara berpikir afektif era milenial guna mudah dalam mentranformasikan serta mengaktualisasikan dalam pemahaman pribadi. Ada beberapa pemahaman yang sangak efektif mulai dari membuat sebuah paham baru dalam berpikir serta busro juga menjelaskan itu dalam konsep filsafat ilmu.

Buku ini memberi bahan pelajaran dan analisis yang sangat luas dari sudut pandang yang sangat relevan sebagai mana kita memandang manusia hari ini, saya mencoba menuliskan dari berbagai sisi pandangan untuk memberi argumentasi-argumentasi baru guna memberi pilihan terhadap public hari ini. “Aku Mencari Manusia” merupakan cara berpikir milenial 2019 ini.

ALIANSI PEDULI KAMPUS BIRU SAMPAIKAN ASPIRASI KE REKTORAT

DEBUS AKSI

ALIANSI PEDULI KAMPUS BIRU SAMPAIKAN ASPIRASI

KE REKTORAT UPGRI PALEMBANG

Oleh : Dedi Busro

Kordinator Aksi

Direktur Eksekutif Center For Dialektika And Busronisme Studies (CDBS)

Selasa (2/4/2019), berlangsung 2 kali aksi, aksi pertama pada pukul 10.00 – 11.30 dan berlanjut aksi ke 2 pada jam 13.00 – 14.25, Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Peduli Kampus Biru Universitas PGRI Palembang, menyampaikan aspirasi mereka dalam bentuk aksi kepada pihak Rektorat kampus PGRI dengan 6 tuntutan.

Aksi pertama mereka menyuarakan aspirasi yang di pimpin dedi busro dan Suparman untuk segerah mendesak hal-hal penting yang mereka sampaikan terutama, mengembalikan dengan segerah mahasiswa yang di paksa datang menghadiri kampanye JKMA (Jokowi Mahruf Amin) dengan iming-iming Dialog Nasional, mereka ke PSCC sesuai dengan jadwal kampanye JKMA, Sesampai mahasiswa di acara tersebut ternyata tidak ada Dialog Nasional melainkan acara kampanye JKMA.

Hal ini terus diseruhkan kawan-kawan aksi untuk segerah menuntut mahasiswa yang dikirimkan untuk segerah di pulangkan, pada aksi pertama ini rektor tidak menemui peserta aksi lantaran sedang dalam perjalanan yang jauh oleh karenanya masa aksi di hadapkan oleh beberapa perwakilan rektorat turut hadir kelapangan pada aksi pertama Wakil rektor I bpk Helmi Haris, Wakil Rektor II Bpk Yasir Arafat, Wakil Rektor III Bpk Sukardi serta di dampingi dekan FKIP dan Pihak Humas Universitas PGRI Palembang.

Aksi pertama selesai, Wakil rektor 3 menyampaikan beberapa point yang membuat masa aksi sedikit reda lantaran akan di pertemukan secara langsung dengan rektorat 1×24 jam. Wakil rektor menyampaikan bahwa dia juga menerima surat dari L2DIKTI perihal utusan perwakilan mahasiswa untuk datang ke PSCC tersebut. Wakil rektor berjanji akan segera menyelesaikan dengan baik dan cepat masalah ini. Akhirnya masa aksi beristirahat guna menunggu keputusan yang kredibel.

Selepas Sholat Dzuhur, masa aksi kembali merapatkan barisan dan sedikit menambah amunisi untuk siap turun kembali dengan menyediakan 6 tuntutan secara langsung ini merupakan aksi ke 2 setelah aksi pertama tadi. Tuntutan di antaranya

  1. Netralitas dan tolak politik masuk kampus
  2. Perubahan fasilitas yang lebih baik
  3. Transparansi Anggaran Mahasiswa
  4. Tenaga Pendidik Yang Kurang Profesional
  5. Transparansi UKT
  6. Adakan Semester Pendek

Masa yang tergabung lengkap dalam aksi ke dua ini Hadir Presma Andi Leo dan Koordinator Aksi Dedi Busro beserta UKM dan Ormawa kembali menyuarakan aspirasi dengan berkeliling ke sudut-sudut kampus, mulai dari titik kumpul di depan MUSHOLA mereka berjalan menuju gedung-gedung yang di isi oleh mahasiswa untuk dapat bergabung bersama mereka.

Setelah sekitar 30 menit melakukan orasi keliling kampus masa aksi menuju tempat aula sriwijaya yang telah di janjikan untuk bertemu rektorat.

Dalam pertemuan itu, masa aksi menunggu di bawah dan terus melakukan orasi bergiliran untuk meminta rektor turun menemui masa aksi. Akhirnya rektor turun menemui masa aksi dengan menyampaikan beberapa point. Point yang paling penting rektor menjelaskan kesalahan universitas dalam hal ini dan akan di tindaklanjuti dengan segerah mungkin.

Rektor Universitas PGRI Palembang, Dr. H. Bukman Lian, M.M., M.Si, juga menyampaikan bahwa “Mereka menyampaikan aspirasi, kita acungkan jempol, kita terima kasih karena peduli dengan kampus. Walaupun orangtuanya melakukan kekeliruan kan, biasa diingatkan anaknya. Ke depan, tolong kawal kampus kita ini secara sama-sama, ujar Rektor

Selain itu, pak Rektor juga mengatakan menerima keluhan mereka terhadap kampus. Seperti isu Uang Kuliah Tunggal (UKT), perihal Semester Pendek, fasilitas BEM dan Dosen yang tidak profesional untuk ditertibkan.

“Saya berjanji kalau banyak dosen yang tidak profesional, kasih tau saya langsung. Saya ga bisa nyari 600 dosen langsung, jangan diinisialkan. Kalau kata mereka hanya meninggalkan catatan, tau-tau sudah semesteran. Itu yang namanya tidak profesional,” jelasnya.

Setelah mendengarkan penyampaian bapak rektor mengenai kekeliruan mereka dalam hal ini, akhirnya masa aksi dapat bubar dengan damai, dan akan menunggu dan mengawal proses realisasi dari ucapan bapak rektor tersebut.

Memang dalam hal ini, mahasiswa universitas PGRI Palembang sudah absen beberapa tahun tidak mengelar aksi lantaran masi sabar akan polemik-polemik yang hadir, akhirnya hari ini merupakan gerbang pembuka untuk dapat lebih ketat dalam mengawal kebijakan-kebijakan pemangku kebijakan yang ada di universitas guna merawat universitas PGRI palembang yang lebih baik untuk tahun-tahun yang akan datang.

Mahasiswa & Hmi Cabang Palembang Mengutuk Keras Aksi Teror Di Masjid Al Noor Kota Christcurch, Selandia Baru

pp-dedi-b.png

Mahasiswa & Hmi Cabang Palembang Mengutuk Keras Aksi Teror

Di Masjid Al Noor Kota Christcurch, Selandia Baru

Oleh : Dedi Busro

Mahasiswa Univ.PGRI Palembang

Penerima Beasiswa Generasi Harapan Sinergi Sriwijaya

 

Jumat, 15 Maret 2019 telah terjadi aksi teror berupa pembakan massal pada warga muslim di masjid Al Noor, Masjid Linwood, serta beberapa tempat lainya di kota Cristcurch, selandia baru. Aksi teror tersebut dilancarkan bertepatan dengan ibadah shalat jumat sekitar pukul 13.45 NZST.

Sampai pada saat ini telah sama-sama kita ketahui bahwa aksi penembakan tersebut telah menyebabkan tewasnya 49 orang dan lebih dari 48 lainya luka-luka. Dan alhamdulillah Kepolisian Selandia Baru telah mengamankan empat orang pelaku aksi teror tersebut.

Satu diantaranya diidentifikasi sebagai Brenton Tarrant (28), seorang kebangsaan Australia, yang mempublikasikan manifesto sepanjang 87 halaman di laman media sosial pribadinya yang berisikan ujaran anti-Islam dan anti-imigran serta justifikasi untuk melakukan penembakan terhadap muslim.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, dalam siaran persnya mendeskripsikan kejadian ini sebagai “kejahatan yang belum pernah dialami oleh publik Selandia Baru sebelumnya,” dan sebagai “salah satu hari terkelam dalam sejarah Selandia Baru.”

Menanggapi aksi teror tersebut, Mahasiswa Sumatera selatan beserta Himpunan Mahasiswa Islam Cabang palembang sebagai lembaga yang sangat kental dengan Islam sekaligus yang menjunjung tinggi nilai solidaritas, kemanusiaan, perdamaian, dan persaudaraan merasa perlu mengutuk aksi teroris tersebut.

HMI Cabang Palembang di bawah pimpinan Eko Hendiyono S.Tr.M bersama Perwakilan Cipayung Plus yang merupakan Aktivis Mahasiswa sumsel mereka juga menyampaikan ungkapan belasungkawa terhadap korban sekaligus mengutuk keras aksi biadab yang di lakukan teroris terhadap umat muslim di kota christchurch, selandia baru. Mereka juga telah melakukan forum kajian diskusi menyikapi permasalahan di sekretariat Yayasan Pembina Umat Cabang Palembang (YPU Cabang Palembang).

“Semua forum dalam diskusi tersebut sepakat mengutuk keras aksi teror Anri-Islam di selandia baru. Tindakan itu merupakan tindakan biadab yang bertentangan dengan perikemanusiaan. Ini adalah tragedi kemanusiaan terkeji di dunia yang mencederai kemulian manusia,” kata dia.

Selain melakukan forum kajian mereka juga merealisasikan hasil kajian dengan menyuarakan semua hasil musyawara dalam satu moment yaitu aksi solidaritas mengecam dan mengutuk kebiadaban terorisme di Selandia Baru. Aksi solidaritas tersebut berlangsung di Bundaran Air Mancur, Palembang, Selasa 19/03/2019.

Masa yang tergabung di dalam aliansi aksi solidaritas itu merupakan gabungan dari beberapa organisasi mahasiswa yaitu, HMI, PII, Pelajar Sriwijaya, PMII, ACT, JSI, KOHATI, KOPRI, GMKI, IMM, IPM, IPNU, GENBI, FMI, MRI, BKPRMI, KGB, KMB, BIKERS SUBUHAN, PAYO BERBAGI, IRLAS, VIDGRAM SUMSEL, YUK NGAJI, WONG KITO HIJRAH, PMS, BERKAS CHAPTER, SSS, AP3, LHC, MASIKA DAN ICMI.

Sebenarnya Terorisme berkembang sejak berabad lampau, ditandai dengan bentuk kejahatan murni berupa pembunuhan dan ancaman yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Perkembangannya bermula dalam bentuk fanatisme aliran kepercayaan yang kemudian berubah menjadi pembunuhan, baik yang dilakukan secara perorangan maupun oleh suatu kelompok terhadap penguasa yang dianggap sebagai tiran. Pembunuhan terhadap individu ini sudah dapat dikatakan sebagai bentuk murni dari Terorisme dengan mengacu pada sejarah Terorisme modern.

Meski istilah Teror dan Terorisme baru mulai populer abad ke-18, namun fenomena yang ditujukannya bukanlah baru. Menurut Grant Wardlaw dalam buku Political Terrorism (1982), manifestasi Terorisme sistematis muncul sebelum Revolusi Prancis, tetapi baru mencolok sejak paruh kedua abad ke-19. Dalam suplemen kamus yang dikeluarkan Akademi Prancis tahun 1798, terorisme lebih diartikan sebagai sistem rezim teror.

Bentuk pertama Terorisme, terjadi sebelum Perang Dunia II, Terorisme dilakukan dengan cara pembunuhan politik terhadap pejabat pemerintah. Bentuk kedua Terorisme dimulai di Aljazair pada tahun 50an, dilakukan oleh FLN yang memopulerkan “serangan yang bersifat acak” terhadap masyarakat sipil yang tidak berdosa. Hal ini dilakukan untuk melawan apa yang disebut sebagai Terorisme negara oleh Algerian Nationalist. Pembunuhan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan keadilan. Bentuk ketiga Terorisme muncul pada tahun 60an dan terkenal dengan istilah “Terorisme Media”, berupa serangan acak terhadap siapa saja untuk tujuan publisitas.  Bentuk ketiga ini berkembang melalui tiga sumber, yaitu:

  1. kecenderungan sejarah yang semakin menentang kolonialisme dan tumbuhnya gerakan-gerakan demokrasi serta HAM.
  2. pergeseran ideologis yang mencakup kebangkitan fundamentalis agama, radikalis setelah era perang Vietnam dan munculnya ide perang gerilya kota.
  3. kemajuan teknologi, penemuan senjata canggih dan peningkatan lalu lintas.

Namun Terorisme bentuk ini dianggap kurang efektif dalam masyarakat yang ketika itu sebagian besar buta huruf dan apatis. Seruan atau perjuangan melalui tulisan mempunyai dampak yang sangat kecil. Akan lebih efektif menerapkan “the philosophy of the bomb” yang bersifat eksplosif dan sulit diabaikan. Pasca Perang Dunia II, dunia tidak pernah mengenal “damai”. Berbagai pergolakan berkembang dan berlangsung secara berkelanjutan. Konfrontasi negara adikuasa yang meluas menjadi konflik Timur – Barat dan menyeret beberapa negara Dunia Ketiga ke dalamnya menyebabkan timbulnya konflik Utara – Selatan.

Perjuangan melawan penjajah, pergolakan rasial, konflik regional yang menarik campur tangan pihak ketiga, pergolakan dalam negeri di sekian banyak negara Dunia Ketiga, membuat dunia labil dan bergejolak. Ketidakstabilan dunia dan rasa frustasi dari banyak Negara Berkembang dalam perjuangan menuntut hak-hak yang dianggap fundamental dan sah, membuka peluang muncul dan meluasnya Terorisme. Fenomena Terorisme meningkat sejak permulaan dasa warsa 70-an. Terorisme dan Teror telah berkembang dalam sengketa ideologi, fanatisme agama, perjuangan kemerdekaan, pemberontakan, gerilya, bahkan juga oleh pemerintah sebagai cara dan sarana menegakkan kekuasaannya.

Terorisme gaya baru mengandung beberapa karakteristik:[9]

  1. ada maksimalisasi korban secara sangat mengerikan.
  2. keinginan untuk mendapatkan liputan di media massa secara internasional secepat mungkin.
  3. tidak pernah ada yang membuat klaim terhadap Terorisme yang sudah dilakukan.
  4. serangan Terorisme itu tidak pernah bisa diduga karena sasarannya sama dengan luasnya seluruh permukaan bumi.

Maka dari itu akan menjadi harapan kita bersama bahwa TERORISME memang tidak ada tempat di dunia ini, mari kita jadikan moment ini sebagai satu kondisi yang selalu membuat kita lebih peduli dengan sesama sehingga kita juga mengurangi jumlah korban yang berjatuhan akibat tindakan biadap terorisme.

Rusaknya Moralitas Mahasiswa Pada Pemilu 2019

cdbs-direk.png

 

 

 

 

 

 

Rusaknya Moralitas Mahasiswa Pada Pemilu 2019

Oleh : Dedi Busro

Mahasiswa Univ.PGRI Palembang

Direktur Eksekutif Center For Dialektika And Busronisme Studies (CDBS)

 

Golden Sriwijaya Building Palembang, Sumatera Selatan, Jumat 29 maret 2019, Para Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Selatan yang tergabung dalam Brigade Mahasiswa JKMA mendeklarasikan diri untuk mendukung calon presiden-wakil presiden nomor 01 Joko Widodo- Ma’ruf Amin. Setidaknya, 1.000 mahasiswa yang hadir dalam deklarasi dukungan itu yang berlangsung di Golden Sriwijaya Building Palembang, Sumatera Selatan.

Menyikapi hal terlibatnya Mahasiswa dalam Politik praktis sangat kami sayangkan, apalagi menggunakan label mahasiswa sebagai alat untuk memenangkan salah satu pasangan calon dengan cara mendeklarasikan diri secara langsung, hal ini tidak di benarkan sama sekali karena mahasiswa punya Moralitas yang baik guna menjaga keutuhan bangsa dalam konteks netralitas sebagai suatu lembaga perguruan tinggi yang hakiki.

Jika atas nama pribadi mungkin hal itu tidak dipermasalahkan karena itu merupakan pilihan masing-masing orang, tapi jika atas nama Kelompok Mahasiswa itu sudah merusak MORALITAS Mahasiswa secara langsung.

Bahkan Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan pada saat menghadiri wisuda mahasiswa STAI Khozinatul Ulum Blora, Jawa Tengah, Minggu (16/9), kampus tidak boleh menjadi arena politik apalagi mahasiswa tidak boleh terlibat dalam Politik Praktis.

Mahasiswa berpolitik Vs Tidak berpolitik

Ada anggapan lain yang mengatakan bahwa pada mumnya mahasiswa yang aktif dalam dunia politik adalah mereka yang berpandangan pesimis mengenai kemungkinan mendapatkan posisi terbaik di dalam masyarakat. Mereka mencoba mencari alternatif yang dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dan mengasah mereka terjun dalam dunia organisasi sebagai jalan memahami kehidupan organisasi yang lebih luas.

Bukan itu saja, mungkin sering kali kita mendapati mahasiswa yang  agak terlambat menyelesaikan pendidikannya di universitas karena terlalu sibuk dengan perpolitikan di suatu organisasi. Bahkan ada yang sampai tidak menyelesaikan pendidikan karena telah menemukan tujuan akhirnya.

Semua itu bentuk pergerakan mereka agar bagaimana bisa lebih mudah memasuki jabatan-jabatan terbaik di masyarakat. Oleh karenanya, bagi sebagian mahasiswa jalan yang relatif singkat untuk melampaui hambatan sosial  tersebut ialah dengan memasuki lapangan politik.

Berbeda lagi dengan mahasiswa yang memilih untuk lebih fokus pada studinya. Kelompok yang satu ini meyakini bahwa akan tersedianya kesempatan untuk memperoleh jabatan yang baik apabila memiliki kualitas baik dalam studi. Mereka dalam hal ini mencoba memperkecil kecenderungan berpolitik. Memang tidak dipungkiri bahwa sebagian kelompok ini merupakan dari kalangan elit yang tidak memerlukan dukungan politis untuk bisa memasuki lingkaran peran terbaik di dalam masyarakat. Walaupun demikian, mahasiswa yang termasuk ke dalam kategori ini bukan tidak hendak melibatkan diri dalam aktivitas politik sama sekali. Dalam hal ini, faktor idealisme merupakan pendorong bagi kegiatan politik mahasiswa pada umumnya, mungkin akan memberikan jawaban yang bermakna untuk diperhatikan.

Selama di universitas, sebetulnya mahasiswa dapat mengamati masyarakat dari mata kuliah yang diberikan yang berupa penelitian dan praktek di masyarakat. Selain itu, mereka pun juga memiliki pengetahuan yang cukup seputar kenegaraan, pemerintah dan seluk beluk pengaturannya dari berbagai sumber. Dari sini kemudian mahasiswa mempunyai kemampuan untuk mengukur apa yang dialami dan dibutuhkan masyarakat dengan apa yang diharapkannya dari pemerintah.

Tidak mungkin sebagai mahasisa melepaskan sepenuhnya hal-hal berbau politik dengan keberadaan, apalagi sebagai mahasiswa. Apabila nilai-nilai dasar yang layak dikembangkan di masyarakat, seperti kebebasan mengemukakan pendapat, berkumpul, dan kehidupan bersama yang tentu tidak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat nyata. Oleh karena itu, aplikasi dari kehidupan yang sempat dijalani oleh mahasiswa tersebut, sudah selayaknya diaplikasikan dengan sebaik mungkin.

Maka Dari itu ada hal yang paling penting yang harus kita ketahui selagi kita masih berstatus mahasiswa kita tidak boleh merusak Moralitas kita sebagai suatu amanat untuk dapat terjaga kualitas kita

Mahasiswa dan Politik Kampus.

Peristiwa 1998 merupakan salah satu bukti bahwa kekuatan mahasiswa merupakan ancaman bagi penguasa yang dianggap lalai dalam memerintah. Tombak kebangkitan serta jiwa pembawa perubahan telah menjadi bagian dalam diri mahasiswa. Selain itu, kepercayaan masyarakat yang menganggap bahwa mahasiswa merupakan jembatan penghubung antara kalangan bawah dengan kalangan atas.

Tentu di sini harus ada perantara yang mampu menyeimbangi serta memiliki kapasitas yang sama dengan apa yang dimiliki oleh orang-orang yang berdiri ditampu pemerintahan. Mahasiswa sebagai kaum intelektual, bagian dari masyarakat serta pelopor dari sebuah bangsa, maka harus ikut mengawasi perpolitikan yang terjadi agar mampu memberikan masukan terhadap kebijakan yang dibuat.

Seluk beluk perpolitikan dalam ranah kampus memang belum dipahami secara merata oleh mayoritas kampus. padahal kampus merupakan pusat intelektualitas, tempat pengembangan ranah pemikiran dan tindakan. Tidak hanya berharap IPK tinggi, namun yang paling penting adalah bagaimana kita bisa belajar berkontribusi terhadap pemecahan msalah negeri ini.

Oleh karena itu, mahasiswa sebagai agent of change sudah sepatut dan selayaknya tidak hanya diam dan menikmati posisi yang nyaman sebagai mahasiswa, tetapi harus berpikir kritis mengembangkan potensi sebagai kaum intelektual terhadap beragam keputusan di negaranya. Ingat bahwa mahasiswa bukan hanya sebagai agen perubahan, namun juga sebagai penyambung lidah rakyat kepada para petinggi-petinggi negeri ini.

Oleh karenanya kita sebagai mahasiswa harus pintar memposisikan diri sebagai insan akademis dimana Kita memang tidak boleh melek akan politik tapi kita juga tidak boleh berpolitik yang salah dalam mahasiswa. Mendeklarasikan serta mengatas namakan mahasiswa untuk kepeningan kelompok jelas kita sudah merusak moralitas. Ada satu titik sentral mahasiswa kenapa dibilang merusak moralitas, terletak pada idealisme mahasiswa yang tergolong tidak tergoyahkan. Tapi pada saat ini idealisme itu seakan sirna dan hilang dari suatu tubuh besar Mahasiswa. Jangan jadikan organisasi tempat mencari makan. Organisasi bukan alat untuk mencari kepentingan pribadi karena organisasi adalah kelompok yang punya tujuan bersama. Sangat receh sekali jika masi ada kepentingan pribadi berdasarkan arus politik yang kotor. Menjadi Pekerja Rumah untuk Kita semua. Mari Kita Perbaiki.

Pelaku Golput Terbesar Pada Pemilu 2019

img-20181123-wa0030.jpg

Pelaku Golput Terbesar Pada Pemilu 2019

Oleh : Dedi Busro

Aktivis BGH Sinergi Sriwijaya sekaligus Penulis

17 April nanti akan menjadi hajat terbesar bangsa ini dalam menyambut suksesnya kepemimpinan politik untuk 5 tahun kedepan.

Kita harus membaca sejarah sekaligus melihat kiprah Golongan Putih (Golput) terlebih dahulu. sebagai sebua negara dengan sistem demokrasi, pemilihan umum adalah agenda masyarakat Indonesia dalam suksesi penyelenggaraan Pemilihan Umum untuk menentukan nahkoda bangsa ini dalam 5 tahun kedepan. Semakin tinggi masyarakat yang melakukan tindakan Golput, berarti tingkat partisipasi masyarakat terhadap pemilu semakin rendah.

Sejarah Golongan Putih (Golput) di indonsia berawal mulai pada masa orde lama pada tahun 1995 telah tercatat tingkat partisipasi publik untuk pemilihan umum hingga 91,1% dan angka Golput pada tahun tersebut berada pada level 8,6%. Sedangkan setelah masa orde lama masuk pada babak Orde Baru, pada masa orde baru tepatnya pada tahun 1971 terjadi penurunan Golput yang sangat besar hingga berada pada angka 3,4%. Seiring berjalannya waktu Sistem di indonesia mulai berubah dan terus melakukan retorika politik yang diluar payung yang semestinya.

Angka Golput terbesar malah terjadi pada masa orde reformasi tentunya pasca orde baru, yaitu pada tahun 2009 yang mencetak angka golput terbesar yang mencapai 29,3%. Pada pemilu 2009 tersebut yang mana menjadi ajang pertama, di mana masyarakat indonesia bisa memilih presiden dan wakil presiden secara langsung.

Sementara dalam lingkup daerah, Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) serentak seluruh indonesia yang pertama kali di adakan pada tahun 2015. Pada tahun tersebut hanya di ikuti 70% pemilihdari daerah nyang mengadakan pemilihan. Artinya tingkat golput dalam pilkada serentak tahun 2015 waktu itu mencapai 30%.

Pada saat pileg 2014, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah menegaskan hasil rekapitulasi suara pada pileg 2014. Yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua KPU Husni Kamil Manik menyebutkan bahwa partisipasi pemilih pada pileg tahun ini meningkat dibandingkan tahun 2009. Pada tahun 2014 partisipasi pemilih pada pemilu legislatif ini mencapai 75,11 persen, dan KPU mencatat jumlah suleruh suara sah pada waktu itu mencapai 12.972.491 suara dengan angka perolehan tingkat golput mencapai 24,89 persen.

Jika dibandingkan dngan pemilu legislatif tahun 2009, maka tingkat partisipasi masyarakat terhadap gelaran politik 5 tahunan ini meningkat. Tercatat baha angka golput pada pileg 2009 mencapai 29,01 persen dengan tingkat partisipasi 20,99 persen.

Tingkat tinggi golput bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor regulasi, konflik dalam partai politik, dan para kandidat yang tidak memiliki nilai jual di mata masyarakat serta ada beberapa kelompok yang lalai memilih karena kinerja penyelenggara pemilu tidak melakukan sosialisasi secara menyeluruh.

Memilih dalam pemilu adalah Hak bagi seluruh warga negara Indonesia yang telah memiliki KTP atau masuk pada Usia 17 Tahun. Namun bagi mereka yang memutuskan untuk tidak memilih, apun alasanya yang biasanya kita sebut mereka adalah golput, sebenarnya tidak menyalahi undang-undang manapun, sehingga tidak dapat dipidana. Meskipun demikian ada pasal 308 UU No.8 Tahun 2012 yang mengatur Tentang Pemilu memberikan ruang bagi penegak hukum untuk menjerat siapapun yang mengajak orang lain untuk golput.

Sebenarnya pelaku golput itu dapat kita siasati dengan melihat kondisi mereka yang tidak terangkul untuk dapat ajakan memilih serta dengan kondisi lain yang menyulitkan mereka untuk memilih, pada tahun 2014 lalu. Pemilih dalam segala basis, mulai dari basis pemuda, perempuan, agama, disabilitas, marjinal dan komunitas itu, sudah mulai meningkat partisipasinya dalam memilih pada pileg 2014 lalu.

Menyikapi Pemilihan Umum serentak dan Terbesar, pada tahun 2019 ini akan mengalami peningkatan partisipasi pemilihan dan akan mengurangi tingkat golput pada tahun ini karena kinerja yang dilakukan penyelenggara hampir sudah menyeluruh serta di bantu antusias para calon dalam mengkampanyekan pentingnya memilih pada tahun ini. Kemudian dari pada itu tidak bi9sa kita pungkiri akan tetap terjadi Golongan Putih (golput) pada saat Pemilu 2019 ini.

Ada beberapa hal yang perlu kita semua ketahui bahwa Pelaku GOLPUT pada pemilu 2019 ini akan banyak dari kalangan mahasiswa, sebagai contoh ada 151 universitas/ perguruan tinggi /sekolah tinggi di sumatera selatan ini yang di dalamnya terdapat ratusan bahkan ribuan mahasiswa yang sudah pasti dapat memilih dalam pemilu 2019 saat ini.

Tentunya dalam beberapa kampus tersebut ada banyak mahasiswa yang bukan berasal dari daerah tempat kampus itu berada, di kampus yang berada di sumatera selatan sendiri contohnya tepatnya di palembang ada sebua kampus swasta tepatnya kampus Universitas PGRI Palembang sebagai contohnya, itu hampir 80% mahasiswa bukan dari palembang, melainkan dari luar kota belum lagi kampus yang lainya yang jauh memiliki jumlah mahasiswa yang lebih banyak.

Setelah saya tanya dengan beberapa mahasiswa banyak sekali mahasiswa yang malas memilih karena tidak tahu apakah mereka bisa memilih atau tidak. artinya ada ketidak tahuan mahasiswa untuk permasalahan tentang memilih. Karena kita sama-sama ketahui bahwa mahasiswa lah yang mewarnai gemurug lahirnya bangsa ini. Artinya memang harus kita akui keberadaan mereka dalam menyambut pesta politik tahun ini.

Salah satu mahasiswa setelah saya tanya secara langsung apakah alasan mereka sampai malas memilih itu hampir permasalahanya sama, mereka mengeluh dengan sistem pindah pilih yang mereka sebut terlalu susah dan “teman-teman saya semuanya malas untuk mengurus pindah pilih tersebut’ ujar mahasiswwa terbut.

Artinya para mahasiswa merasa ribet (susah) dan bahkan banyak yang tidak tahu untuk dapat memilih pada pemilu 2019 ini.

Artinya Penyelenggara Pemilihan Umum (Pemilu) pada tahun ini harus mensosialisasikan kepada mahasiswa secara langsung dan dapat mempermudah akses pindah pilih agar mereka dapat memilih, karena menjadi sebuah kewajiban Komisi Pemilihan Umum untuk memastikan seluruh rakyat indonesia ikut suksesi pemilu tahun ini. Salah satu mahasiswa dari Universitas PGRI palembang mengatakan sudah ada Posko Pindah pilih yang di lakuklan KPU setempat yang di jaga oleh para relawan demokrasi yang bekerja sama dengan BEM universitas untuk mengatasi permasalahan pindah pilih di kampus, tapi sayang regulasi persyaratan untuk pindah pilih dinilai teman-teman terlalu ribet, karena mahasiswa saat ini ingin yang cepat tanpa harus menunggu kalau bisa online yang kami akan lebih mudah memilih, dan juga “kami sangat kesulitan karena katanya banyak aturan-aturan memilih yang kurang kami pahami serta kertas suara yang membingungkan, saya saja kalau tidak ada ajakan dari teman saya tidak akan mengurus surat pindah pilih ini” ujar salah satu ketua BEM Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Palembang tersebut.

Pemilihan Umum 2019 adalah hajat bangsa ini, menjadi kewajiban kita untuk menjadi civil society dalam mengawal KPU dan Bawaslu untuk dapat mengabarkan begitu pentingnya prosesi ikut memilih sebagian dari kewajiban HAK kita untuk menentukan pemimpin bangsa ini untuk 5 tahun kedepan. Maka kita harus melibatkan diri untuk menjadi penyebar berita yang aktual kepada masyarakat karena kita juga merupakan pilar dari suksesnya demokrasi tahun 2019 ini.

Siapa Pemenang dalam dualisme

Seperti tidak perna berhenti untuk berseteruh dalam forum yang sama, seperti terlihat gagah di rumah sendiri. Dalam beberapa dekade ini sering muncul kepemimpinan ganda atau biasa kita dengar dengan dualisme. Hal ini menarik kalau di pandang oleh secara akal sehat, organisasi yang di pimpin oleh dua pimpinan tentu tidak akan kelaparan anggota keluarga organisasi itu dan pasti dalam melaksanakan tugas umat dan mungkin cepat teratasi masalah-masalah kebabgsaan karena di komando oleh dua pemimpin langsung. Itu pandangan akal sehatnya.

Beda lagi kalau dipandang dalam segi konstitusi dan pandangan umum hal itu jelas bertentangan dengan tujuan organisasi maka kalau terjadi dualisme. siapa pewaris Sah pemenang tersebut, pemenang dalam dualisme adalah mereka yang berhasil menguasi sekretariat dengan pedoman surat keputudan kepengurusan yang sah.

Kalau cuman punya SK yang sah tapi tidak bisa menempati rumah sendiri itu bukan kemanagan yang sebenarnya begitupulah sebaliknya.

Maka harus semestinya kita sebagai insan akademis perlu berpikir lebih jernih dalam menyikapi hal ini, jangan terlihat pecundang untuk lawan dan jangan terlihat anjing untuk teman. Kita membawa perubahan untuk lebih baik bukan membawa perlawanan untuk terlihat baik. Organisasi sudah besar tapi di isi oleh orang-orang yang belum dewasa.

Kapan waktunya kita bangga untuk organisasi itu? Bukan saat kita ada di dalamnya saja, tapi ketika kita mampu membawa perubahan sesuai dgn tujuanya dan kita akan menyebut namanya. Ia sudah besar kenapa harus berjuang untuk membesarkanya lagi. Terkadang anda ingin terlihat bekerja untuk rumah yang sudah besar maka peran anda adalah pembantu atas rumah itu. Untuk menjadi tuan atas rumah itu tidak segampang itu ferguso. Kamu perlu perbaiki sikap dan akal mu baru kau bisa memimpin rumah itu.

…..dedi busro…

Ideologi Terakhir di dunia. Ideologi Busronisme (kebebasan)

Ideologi adalah suatu bentuk pemikiran yang di yakini sebagai tools pergerakan dalam berpikir dan berkehidupan. Ideologi busronisme hadir di akhir tahun 2018 yang di tokohi oleh seorang mahasiswa dari sumatera selatan juga merupakan putra daerah kabupaten musi rawas “dedi busro”. Busronisme merupakan paham atau alat berpikir dan bertindak untuk sebua rezim. Busronisme merupakan KEBEBASAN yang sangat luas yang membuat seseorang bebas dari kekangan apapun yang merujuk pada idealisme dalam berkehidupan.

Busronisme (kebebasan), merupakan ideologi/paham terakhir di dunia ini karena kebebasanlah yang mampu berbuat banyak untu saat ini dan saat nanti, kebebasan yang sejatinya sering di permasalahan dalam kehidupan ini terkadang menjadi dilema tersendiri bagi setiap orang. Kebebasan yang di cangkup dalam ideologi busronisme itu secara keseluruhan baik dari aspek dunia.

Busronisme itu juga hadir ketika seorang dedi busro melihat banyak orang masi terkekang oleh aturan kehidupan di kekang oleh aturan lainya yang membuat kita seakan kemiskinan kebebasan. Selayaknya kebebasan ini harus kita gaungkan dan kita tanamkan dalam diri kita betapa istimewa dan strategisnya peran kebebasan ini dalam berkehidupan.

.

.

Pemuda Sumsel Sambut Bonus Demografi

Sumsel akan segerah menyongsong fase aktif bonus demografi yang tidak lama lagi akan di rasakan. Ini akan menjadi tantangan bagi pemuda sumsel apakah kita siap siaga menuju negara maju atau justru berdampak sebaliknya kita terlindas akan bencana demografi ini

Bonus demografi merupakan kondisi dimana populasi usia produktif lebih banyak dari usia nonproduktif. Secara umumnya indonesia dan terkhusus sumatera selatan akan mengalami puncak bonus demografi pada tahun 2030 mendatang dimana pemuda sumsel di tuntut lebih siap dan pro aktif dalam melakukan peran aktifnya dalam menyambut perubahan baru.

secara normatifnya, bonus demografi seyogianya membawa sebua negara menuju yang lebih baik, terutama membawa kesejahteraan bagi seluruh rakyat indonesia. Karena akan tiba dimana sumsel akan menyambut tenaga kerja yang produktif yang merupakan kabar emas sumatera selatan dalam menggenjot roda ekonomi yang di nantikan masyarakat sumsel.

Agar bonus demografi yang di damba-dambakan tetap berjalan pada porosnya ada beberapa syarat agar bonus demografi tidak menjadi bencana seperti yang tidak kita inginkan, yaitu penduduk harus berkualitas, tersediah lapangan pekerjaan dan sejumlah syarat lainya. Menjadi penting bagi SUMATERA SELATAN untuk menentukan kiblat perokonomian yang dominan untuk beberapa tahun kedepan.

Tentunya harapan pemuda sumsel saat ini untuk lebih siap lepas landas dalam menyambut negara top dunia seperti yang kita harapkan dari dulu, ada cukup waktu untuk memperbaiki Sumber Daya Manusia (SDM), tentunya juga kinerja pemerintah harus kita dukung secara optimis dan mengalir dalam harapan segenap insan bangsa indonesia. [Aktivis BGH Sumsel]

Kronologi Aspirasi dan ide Pemuda di Tolak Pemerintahan Kecamatan Sukakarya.

Pemuda Sukakarya adalah ujung tombak perubahan sebua daerah maka pemuda membentuk sebua organisasi perkumpulan non badan hukum yang bersifat biasa.

Dalam menyambut HUT RI KE 73 tahun 2018 tentunya sebagai putra daerah asal pasti ingin berkontribusi dan bersinergis dengan seluruh unsur di kecamatan sukakarya. Tapi,

Saat rapat pembentukan panitia HUT RI KE 73 Tahun 2018 pemuda yang tahun sebelumnya dilibatkan. pada tahun ini harus ABSEN dalam kepanitian. Tanpa konfirmasi pemuda merasa bingung, tapi pemuda tidak berputus asa Koordinator pemuda (dedi busro) langsung menemui pemerintahan kecamatan sukakarya untuk memintak klarifikasi tersebut.

Pemerintahan kecamatan mengatakan bahwa “kami sudah melakukan transisi kepengurusan di kecamatan jadi kami tidak tau kalau ada sebua perkumpulan pemuda”.

Hal tersebut langsung dibantah oleh koordinator pemuda bahwa sesungguhnya pemuda telah mengikut sertakan dirinya dan mulai bergerak 2 tahun yang lalu dan bahkan orang2 kecamatan tidak semuanya berganti hanya saja lupa dengan kami “pungkas dedi busro”

“Dedi mengatakan, bahwa iya sudah 5 kali menemui pihak kecamatan dari bulan juli lalu, agar pemuda bisa di libatkan kembali dalam kepanitian dan pemuda ingin melaksanakan sebua event kegiatan. Dedi juga menambahkan bahwa proposal dan agenda kegiatan suda dedi presentasikan kepada pihak kecamatan namun lemahnya respon dari civitas pemerintahan kecamatan akhirnya semua dibatalkan karna masalah pendanaan dan mepetnya waktu pelaksanaan, kini pemuda harus menjadi penonton dirumanya sendiri.

Dedi juga menyayangkan kejadian rapat pada tanggal 07 agustus 2018, saat saya ingin menyampaikan kegiatan pemuda kami yang datang dengan 4 orang mewakili teman2. Penyampaian kami langsung di potong dan pimpinan kecamatan lgsung tidak setuju dgn salah satu kegiatan kami dan pimpinan kecamatan keluar dari forum rapat. Hal ini langsung direspon dedi busro bahwa sebagai seorang pimpinan beliau harus mendengarkan aspirasi dan ide-ide pemuda, toh kalau tidak setuju setidaknya didengarkan terlebih dahulu karena aspirasi adalah sebua hak setiap orang.

Kalau aspirasi tidak didengar maka perubahan tidak akan perna ada. Dan jika,
Perubahan tidak ada maka kebenaran pasti di terancam MAKA HANYA ADA SATU KATA “LAWAN”

TTD

ATAS NAMA
KOORDINATOR PEMUDA SUKAKARYA

Kronologi Aspirasi dan ide Pemuda di Tolak Pemerintahan Kecamatan Sukakarya.

Pemuda Sukakarya adalah ujung tombak perubahan sebua daerah maka pemuda membentuk sebua organisasi perkumpulan non badan hukum yang bersifat biasa.

Dalam menyambut HUT RI KE 73 tahun 2018 tentunya sebagai putra daerah asal pasti ingin berkontribusi dan bersinergis dengan seluruh unsur di kecamatan sukakarya. Tapi,

Saat rapat pembentukan panitia HUT RI KE 73 Tahun 2018 pemuda yang tahun sebelumnya dilibatkan. pada tahun ini harus ABSEN dalam kepanitian. Tanpa konfirmasi pemuda merasa bingung, tapi pemuda tidak berputus asa Koordinator pemuda (dedi busro) langsung menemui pemerintahan kecamatan sukakarya untuk memintak klarifikasi tersebut.

Pemerintahan kecamatan mengatakan bahwa “kami sudah melakukan transisi kepengurusan di kecamatan jadi kami tidak tau kalau ada sebua perkumpulan pemuda”.

Hal tersebut langsung dibantah oleh koordinator pemuda bahwa sesungguhnya pemuda telah mengikut sertakan dirinya dan mulai bergerak 2 tahun yang lalu dan bahkan orang2 kecamatan tidak semuanya berganti hanya saja lupa dengan kami “pungkas dedi busro”

“Dedi mengatakan, bahwa iya sudah 5 kali menemui pihak kecamatan dari bulan juli lalu, agar pemuda bisa di libatkan kembali dalam kepanitian dan pemuda ingin melaksanakan sebua event kegiatan. Dedi juga menambahkan bahwa proposal dan agenda kegiatan suda dedi presentasikan kepada pihak kecamatan namun lemahnya respon dari civitas pemerintahan kecamatan akhirnya semua dibatalkan karna masalah pendanaan dan mepetnya waktu pelaksanaan, kini pemuda harus menjadi penonton dirumanya sendiri.

Dedi juga menyayangkan kejadian rapat pada tanggal 07 agustus 2018, saat saya ingin menyampaikan kegiatan pemuda kami yang datang dengan 4 orang mewakili teman2. Penyampaian kami langsung di potong dan pimpinan kecamatan lgsung tidak setuju dgn salah satu kegiatan kami dan pimpinan kecamatan keluar dari forum rapat. Hal ini langsung direspon dedi busro bahwa sebagai seorang pimpinan beliau harus mendengarkan aspirasi dan ide-ide pemuda, toh kalau tidak setuju setidaknya didengarkan terlebih dahulu karena aspirasi adalah sebua hak setiap orang.

Kalau aspirasi tidak didengar maka perubahan tidak akan perna ada. Dan jika,
Perubahan tidak ada maka kebenaran pasti di terancam MAKA HANYA ADA SATU KATA “LAWAN”

TTD

ATAS NAMA
KOORDINATOR PEMUDA SUKAKARYA

DIRGAHAYU KE XXIII TAHUN LATIHAN KEPEMIMPINAN SISWA (LKS)

Organisasi yang dibentuk dari latar belang para senioritas yang punya semangat besar dalam menghasilkan pemimpin yang kelak akan menjunjung negri ini.

Telah berdiri 23 tahun sejak tahun 1995 sampai saat ini 2018 telah jutaan kader lahir dari Organisasi ini, telah begitu banyak kader yang di hasilkan, mereka tetap setiap pada almamater organisasi, dari organisasi ini lahir pemimpin-pemimpin besar, tenaga-tenaga ahli nan profesional.

Saat ini umur organisasiku telah berpijak pada 23 tahun semoga akan terus menghasilkan kader-kader yang visioner dan berbakti untuk NKRI. Doktrin penuh semangat dari para senioritas pada kader adalah tanda bahwa kita para kader akan mengudara bersama semangat yang telah kita proleh selama ini.

Biar layar robek, biar kemudi patah lebih baik tenggelam dari pada putar haluan” || selogan organisasi inilah yang menjadi kunci para kader hingga saat ini.

||JAYALAH LKS KU||

Matinya Dinamika Kampus

Gerakan Mahasiswa berhasil memposisikan dirinya sebagai sebua entitas penggerak yang sangat fundamental dan signifikan dalam menentukan kepemimpinan di negri ini. Tidak sedikit pristiwa sejarah tercatat, melalui kekuatan intelektualnya, mahasiswa pada tahun 1965, 1974, dan 1998 berhasil membangun gerakan yang revolusioner.

Gerakan angkatan 65 misalnya, Lafran Pane, Sulastomo, Soe Hoe Gie dan kawan-kawan berhasil menumbangkan rezim orde lama yabg fi anggap lebih pro terhadap PKI dan tidak mampu mensejahterahkan rakyat.

Sementara, gerakan 74, Hariman siregar dkk melakukan aksi besar-besaran menolak dominasi modal asing (jepang) di indonesia yang dianggap dapat mematikan usaha kecil dan menengah.

Sekian lama setelahnya, pada tahun 1998 gerakan mahasiswa yabg juga di dukung seluruh elemen masyarakat dapat menjatuhkan Presiden Soeharto yang suda 32 tahun memimpin begri ini dengan kebijakan otoriternya. Inilah bukti kebesaran seharah mahasiswa melalui basis intelektual profetik.

ARUS BALIK

Sekarang, kehidupan kampus jarang sekali ditemukan gerakan kultural mahasiswa sebagai basis idiologisasi. Di Unsera misalnya, tak sedikit aktivis kampus malah terjebak ke dalam berbagai rutinitas program seremonial demi adanya sebua eksistensi orgabisasi.

Kultur seperti ini dalam bahasa kuntowijoyo – Persemaian nilai- nilai internal kedalam kondisi objektif – seola tidak ada yang membedakan organisasi mahasiswa dengab event organizer. Dilengkapi dengab sikap feodalisme kedaerahan, rasa takut, cenderung entertaint dengan dalil simbol organisasi (Kaos dan PDH Ormawa ).

Alhasil, organisasi mahasiswa sebagai insfrastruktur wahana minat bakat dan pengembangan ilmu pengetahuan mengalami stagnasi pemikiran dialektis yang kritis progresif. Selain stagnasi pemikiran, melihat ada indikasi bahwa organisasi kampus sudah tidak dapat menjawab kebutuhan masyarakat kampus.

Musababnya, pemerintah kampus juga tidak memberikan satu konsepsi dan solusi dalam membangun kehidupan kampus yang dinamis. Presiden Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, hingga Ketua Himpunan setingkat jurusan terbuai dengan struktual sesat ! Dan dianggap tidak layak untuk menjadi wakil masyarakat kampus.

Persoalan-persoalan matinya dinamika kampus sebagai basis pemikiran, maka dirasa perlu untuk melakukan pembaharuan pemikiran yang modernis dengan melepaskan diri dari nilai-nilai tradusional yabg cendrung membelenggu, serta mencari nilai-nilai yang berorentasi pada masa depan kehidupan yang dinamis.

Berangkat dari itu, mandegnya dinamika kampus, seharusnya dapat diselesaikan dengan adabya sebuah keterbukaan dialog yang dilaksanakan secara masif dari sumua kompenen masyarakat kanpus. Baik organisasi intra maupun ekstra. Agar budaya intelektual tumbuh kembali kedalam lingkungan kehidupan kampus.

Dengan melalui dialog ini, maka diperlukan adanya sikap Inklusifitas dari masyarakat kampus. Tidak konservatif, menghargai pemikiran-pemikiran orang lain, serta melakukan suatu rekayasa kebudayaan sebagai pilar dalam menghidupkan kembali semangat literasi. Bahkan yang terpenting meruntuhkan kesadaran yang masi sebatas pada kesadaran naif dan kesadaran gerakan intelektual hanya ada dalam dunia ide onani pemikiran.

Kini, kita tak lagi dihadapkan dengankondisi yang besar, mahasiswa persis berada di ujung gading, ini adalah kritik bersama yang merupakan suatu bentuk upaya untuk melakukan gerakan pembaharuan dalam menghadapi persoalan stagnasi pemikiran yang melanda dunia kampus. Semoga kita semua akan tercerahkan.

**M.I

Indonesia Tak Perlu Pemimpin kalau penegakan POLITIK saja masi carut marut

Politik adalah segala sesuatu yang menyangkutkekuasaan dalam mengatur kepentingan dan kebaikan. Politik jugalah yang dapat menjadi alat dalam mencapai sesuatu.

Entah bagaimana mengartikan politik PILKADA saat ini, politik mana yang di katakan bersih? Dan politik mana yang di katakan kotor? Semuanya tampak sama, seperti politik bersih namun terlihat kotor dan politik kotor terlihat bersih. Pertayaanya bagaimana cara menjadi politik bersih ? Pernakah Politik bersih terjadi di tanah air ini?.

Pantas saja indonesia tidak ada ekstabilitasnya di mata dunia karna elit politik saja tak perna memberi contoh yang amat berharga terhadap rakyat yang memilihnya. Di mana segala kepentingan umum di kesampingkan hanya untuk mendahulukan kepentingan pribadi. Tampaknya setiap daerah tidak perlu pemimpin dan indonesia tak perlu presiden. Biarlah hidup bebas tanpa ada yang mengatur karena dengan daerah ada pemimpin dan indonesia ada presiden INDONESIA sama saja terasa tidak ada aturan dan malah lebih parah kebebasan yang kian terancam.

Terlihat yang menang menjadi arogan dan lupa cara berterimakasih kepada rakyat kecil dan yang kalah menjadi diam dan tak mau menolong serta malah ingin menjatuhkan.

Para pemimpin ku apa yang kutulis adalah hanya ungkapan rasa sedih melihat kondisi ini dimana harapan generasi yang akan datang menjadi taruhanya kalian tau ketika generasi milenial ini menjadi haus seperti kalian maka indonesia tidak akan perna bersinergis di mata Dunia.

Mari kita lakukan dan ajarka bahwa semua belum terlambat mari kita sambut bonus demografi dengan baik dan ciptakan orang baru dalam sebua perjalanan panjang ini.

Penting di ingat dalam hidup manusia

Ada 3 hal dalam hidup yang tidak bisa kembali:
1. Waktu
2. Ucapan
3. Kesempatan
Jagalah itu, jangan sampai kau menyesal …

Ada 3 hal yang bisa menghancurkan hidup seseorang:
1. Amarah
2. Keangkuhan
3. Dendam
Hindarilah dia selalu …

Ada 3 hal yang tidak boleh hilang:
1. Harapan
2. Keikhlasan
3. Kejujuran
Peliharalah ketiganya …

Ada 3 hal yang paling berharga:
1. Kasih sayang
2. Cinta
3. Kebaikan
Pupuklah itu semua …

Ada 3 hal dalam hidup yang tidak pernah pasti:
1. Kekayaan
2. Kejayaan
3. Mimpi
Jangan terobsesi melengkapi …

Ada 3 hal yang bisa membentuk watak seseorang:
1. Komitmen
2. Ketulusan
3. Kerja Keras
Upayakanlah sekuatnya …

Ada 3 hal yang membuat kita sukses:
1. Tekad
2. Kemauan
3. Fokus
Usahakan dengan sungguh-sungguh …

Ada 3 hal yang tidak pernah kita tahu:
1. Rejeki
2. Umur
3. Jodoh
Mintalah pada TUHAN ..

TAPI, ada 3 hal dalam hidup yang PASTI:
1. Tua

2. Sakit

3. Kematian
Persiapkanlah dengan sebaik-nya

  • Cc..me

Ada apa dengan Organisasi Ekstra Kampus Saat ini ….

Apakah organisasi-organisasi ekstra yang punya sejarah panjang itu masih relevan untuk menjawab tantangan zaman? Bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan segala yang serba digital?

Mari kita tengok kantong-kantong kreatif untuk penciptaan segala sesuatu yang berhubungan dengan internet di Indonesia, adakah yang mucul dari organisasi-organisasi mahasiswa tradisional? Pembangunanstartup, minim. Pembuatan aplikasi, nyaris nihil. Mengingat kader dan simpatisan mereka yang lintas disiplin, tentu mudah saja untuk bergerak di sana, asal ada kemauan dan kemampuan organisasional. Tapi sayangnya tidak.

Baiklah, startup segala macam itu bukan isu seksi untuk gerakan mahasiswa. Aplikasi-aplikasian itu cuma mainan mahasiswa cupu di kampus, aktivis mahasiswa bicaranya yang hebat-hebat dong, dasar dan arah negara, jalannya pemerintahan, keberpihakan kepada yang papa, dan sebagainya dan sebagainya.Agent of change, gitu loh.

Aktivis mahasiswa ya harus turun ke jalan, bukan sibuk di depan laptop, tidak main petisi-petisian online. Perkara menguasai isu atau tidak, itu urusan nanti. Pokoknya harus demonstrasi.

Lalu di mana suara organisasi-organisasi mahasiswa ketika buruh menggalakkan aksi dalam beberapa tahun terakhir, baik onlinemaupun offline? Ke mana suara para aktivis mahasiswa ketika kelas menengah ngehekmenghujat demo buruh, (sekali lagi) baikoffline maupun online? Oh, mahasiswa sibuk demonstrasi untuk hal-hal yang lebih mendasar, mengenai roda pemerintahan, menuntut Jokowi mundur dengan menggunakan simbol kutang.

Dalam hal manajemen isu, sebutkan satu isu saja yang organisasi mahasiswa memimpin di depan. Pemberantasan korupsi? Hak asasi manusia? Perlindungan terhadap minoritas? Pengelolaan sumber daya alam? Lingkungan? Penangkalan ekstremisme agama? Atau apa?

Kalau tidak ada, dan hanya memimpin dalam hal menodongkan proposal kegiatan, mending bubar saja.

This post was last modified on

Juni 23, 2018, 08:43

Desa Yang Kehilangan Pemuda-Pemudinya

Moment libur adalah ajang mudik bagi pemuda-pemuda perantau/kuliahan, dengan telah hadirnya lebaran maka bertemu keluarga adalah bentuk ungkapan rasa rindu ketika sudah lama tidak berjumpa.

Pulang ke-kampung pasti mengidamkan rasa kekeluargaan dan sejuknya pemandangan desa, namun alih-alih berbeda dengan faktanya, banyak pemuda desa yang tidak bekerja karena lapangan pekerjaan yang minim, banyak pula perusahaan yang mempekerjakan orang lain bukan putra asal daerah serta carut marutnya birokrasi desa sampai pada tingkat desa sampai kecamatan.

Hal ini di picuh karna toleransi tidak ditegakan sesuai porosnya dan kebijakan yang salah dalam mengoprasikanya serta ketidak berdayaan masyarakat dalam melawan/mengatasi hal-hal yang keliru ini.

Saat ini desa serta masyarakat butuh jiwa pemuda yang solid dan pantang diam dalam melihat kondisi ini tidak cukup hanya segelintir pemuda tapi butuh pemuda yang bersatu dalam mengindahkan permasalahan desa ini.

Pesan saya sebagai penulis “jangan perna takut berdiri dalam kebenaran dan perubahan, maka ingatlah bahwa kita tidak peduli berjuang untuk siapa hari ini tapi yakinlah seribu sampai seratus orang akan bergantung pada apa yang kita perjuangkan”.

Desa hanya tinggal nama dan kenangan yang memetik hasil dan menikmati bukan putra daerah lagi maka pantas kita mengatakan kita lagi dijajah saat ini. Pemangku kepentingan di desa ini saja tidak kompak apalagi memberi solusi fakta hanya ada satu dari beberapa pemangku kepentingan yang peduli dengan ini tapi lagi-lagi tanpa adanya kebersatuan ini tidak akan ada perubahan. Selogan dimana bumi di pijak disitu langit di junjung tampaknya tidak berlaku di desa ini.

Pantaskan pemimpin acuh dan tidak perhatian dengan masyarakat serta pemuda perlu kita turunkan. Yang memilih kita maka pantas kita melakukan penurunan. Sidang rakyat perlu di lakukan oleh pemuda dan itu sah-sah saja dalam demokrasi indonesia.

Desa Yang Kehilangan Pemuda-Pemudinya

Moment libur adalah ajang mudik bagi pemuda-pemuda perantau/kuliahan, dengan telah hadirnya lebaran maka bertemu keluarga adalah bentuk ungkapan rasa rindu ketika sudah lama tidak berjumpa.

Pulang ke-kampung pasti mengidamkan rasa kekeluargaan dan sejuknya pemandangan desa, namun alih-alih berbeda dengan faktanya, banyak pemuda desa yang tidak bekerja karena lapangan pekerjaan yang minim, banyak pula perusahaan yang mempekerjakan orang lain bukan putra asal daerah serta carut marutnya birokrasi desa sampai pada tingkat desa sampai kecamatan.

Hal ini di picuh karna toleransi tidak ditegakan sesuai porosnya dan kebijakan yang salah dalam mengoprasikanya serta ketidak berdayaan masyarakat dalam melawan/mengatasi hal-hal yang keliru ini.

Saat ini desa serta masyarakat butuh jiwa pemuda yang solid dan pantang diam dalam melihat kondisi ini tidak cukup hanya segelintir pemuda tapi butuh pemuda yang bersatu dalam mengindahkan permasalahan desa ini.

Pesan saya sebagai penulis “jangan perna takut berdiri dalam kebenaran dan perubahan, maka ingatlah bahwa kita tidak peduli berjuang untuk siapa hari ini tapi yakinlah seribu sampai seratus orang akan bergantung pada apa yang kita perjuangkan”.

Desa hanya tinggal nama dan kenangan yang memetik hasil dan menikmati bukan putra daerah lagi maka pantas kita mengatakan kita lagi dijajah saat ini. Pemangku kepentingan di desa ini saja tidak kompak apalagi memberi solusi fakta hanya ada satu dari beberapa pemangku kepentingan yang peduli dengan ini tapi lagi-lagi tanpa adanya kebersatuan ini tidak akan ada perubahan. Selogan dimana bumi di pijak disitu langit di junjung tampaknya tidak berlaku di desa ini.

Pantaskan pemimpin acuh dan tidak perhatian dengan masyarakat serta pemuda perlu kita turunkan. Yang memilih kita maka pantas kita melakukan penurunan. Sidang rakyat perlu di lakukan oleh pemuda dan itu sah-sah saja dalam demokrasi indonesia.